, , ,

Marhaen Sebagai Konstruksi Sosial dalam Pikiran Bung Karno

oleh -9 Dilihat
marhaen bukan sebuah nama

Marhaen bukan sekadar sosok petani miskin, melainkan konstruksi sosial dan ideologis yang dirumuskan Soekarno untuk menggambarkan rakyat Indonesia yang tertindas namun memiliki alat produksi. Artikel ini membahas makna Marhaen, Marhaenisme, dan relevansinya hingga hari ini.

Banyak orang keliru memahami Marhaen sebagai sosok individu belaka, seakan ia hanyalah seorang petani miskin yang kebetulan ditemui Soekarno di Bandung Selatan. Kekeliruan ini berbahaya, karena ia mereduksi kedalaman ideologis Marhaenisme menjadi sekadar anekdot romantik.

banner 468x60

Marhaen bukan nama, melainkan konstruksi sosial, adalah simbol, adalah posisi dalam struktur masyarakat kolonial. Ia adalah wajah mayoritas bangsa Indonesia yang hidup, bekerja, dan menderita di bawah sistem penindasan—namun tetap memiliki alat produksinya sendiri, sekecil apa pun itu.

Bung Karno tidak sedang menciptakan mitos. Ia sedang menyusun sebuah bahasa ideologis agar rakyat Indonesia dapat memahami dirinya sendiri.

Pertemuan Soekarno dan Marhaen: Dari Realitas ke Konsep

Kisah pertemuan Bung Karno dengan seorang petani bernama Marhaen sering diceritakan, tetapi jarang dipahami secara konseptual.

Soekarno bertanya:

  • Apakah engkau memiliki tanah?

  • Apakah engkau memiliki cangkul?

  • Apakah engkau bekerja untuk tuan tanah?

Jawaban petani itu sederhana:

“Tanah ini punya saya, cangkul ini punya saya. Tapi hasilnya tetap tidak cukup untuk hidup layak.”

Di sinilah letak perbedaan fundamental antara proletariat ala Marx dan juga Marhaen ala Soekarno.

Marhaen bukan tidak memiliki alat produksi.
Marhaen memiliki alat produksi, tetapi:

  • Tercekik oleh struktur ekonomi kolonial

  • Diperas oleh sistem pasar yang tidak adil

  • Tidak memiliki kuasa politik

  • Tidak memiliki akses pendidikan dan modal

Soekarno melihat bahwa teori Barat tidak sepenuhnya cukup menjelaskan realitas Indonesia. Maka ia tidak menelan mentah-mentah Marxisme, tetapi mengindonesiakannya.

Di sinilah letak genius Bung Karno.

Marhaen sebagai Konstruksi Sosial Bangsa Terjajah

Yang harus anda ketahui, Marhaen adalah:

  • Petani kecil

  • Buruh dengan upah minim

  • Pedagang kaki lima

  • Nelayan tradisional

  • Tukang, kuli, rakyat jelata

Marhaen hidup dalam masyarakat kolonial–feodal–kapitalistik yang bertumpuk. Ia tidak miskin karena malas, tetapi karena struktur sosial yang sengaja memiskinkan.

Di titik ini, Marhaen menjadi kategori sosial-politik, bukan sekadar kelas ekonomi.

Bung Karno menyadari satu hal penting:

“Jika bangsa ini ingin merdeka, maka ideologinya harus berangkat dari penderitaan rakyatnya sendiri.”

Marhaen adalah subjek sejarah, bukan objek belas kasihan.

Marhaenisme: Ideologi Pembebasan, Bukan Dogma

Marhaenisme bukan agama.
Bukan pula kitab suci.
Ia adalah alat perjuangan.

Secara ideologis, Marhaenisme berdiri di atas:

  • Anti-imperialisme

  • Anti-kapitalisme eksploitatif

  • Anti-feodalisme

  • Nasionalisme kerakyatan

  • Keadilan sosial

Yang juga membedakan Marhaenisme dari ideologi impor adalah akar sosiologisnya. Ia lahir dari tanah Indonesia, dari sawah, pasar, dan pelabuhan.

Bung Karno tidak ingin mengganti penjajah Belanda dengan penjajahan ideologi asing. Ia ingin Indonesia berdiri di atas kaki sendiri (Berdikari).

Soekarno: Figur Sekaligus Ideologi

Bung Karno bukan hanya pemimpin politik. Ia adalah arsitek kesadaran nasional.

Menempatkan Soekarno sekadar sebagai figur adalah kesalahan besar. Ia adalah:

  • Penyambung lidah Marhaen

  • Penyusun sintesis antara Islam, nasionalisme, dan sosialisme

  • Pemikir revolusioner yang kontekstual

Ketika Soekarno berbicara tentang Marhaen, ia sedang berbicara tentang:

Indonesia yang ingin menjadi tuan di negeri sendiri

Soekarno adalah ideologi yang hidup, karena pikirannya terus bergerak mengikuti zaman tanpa kehilangan prinsip.

Marhaen di Zaman Kini: Masihkah Ia Ada?

Marhaen hari ini mungkin tidak lagi memegang cangkul, tetapi:

  • Mengendarai ojek online

  • Bekerja kontrak tanpa kepastian

  • Berdagang di platform digital tanpa perlindungan

  • Terjerat utang konsumtif

  • Tidak memiliki daya tawar politik

Sesungguhnya marhaen tidak hilang. Ia hanya berubah rupa.

Jika Marhaenisme hanya dipajang sebagai slogan, maka ia akan mati juga.
Namun jika ia dijadikan kompas kebijakan, maka negara masih punya harapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.