Jurnal Kiri – Pemikiran kritis adalah tradisi panjang dalam sejarah ilmu pengetahuan dan juga filsafat yang bertujuan membebaskan akal, membongkar struktur kekuasaan, dan menantang kesadaran palsu yang keliahtannya normal. Ia tidak lahir dari satu ideologi tunggal, melainkan berkembang melalui perdebatan, konflik gagasan, dan juga kritik berlapis terhadap pengetahuan, negara, ekonomi, budaya, dan media.
Artikel ini bermaksud sebagai peta besar pemikiran kritis, sebuah landasan bagi kita yang ingin memahami tokoh-tokoh kunci, wilayah kritik mereka, serta relevansinya dalam membaca realitas sosial dan politik hari ini.
Apa Itu Pemikiran Kritis?
Pemikiran kritis bukan sekadar sikap “tidak setuju”. Ia adalah kerangka berpikir sistematis yang mempertanyakan:
- dari mana pengetahuan berasal,
- siapa yang diuntungkan oleh suatu sistem,
- dan bagaimana kekuasaan bekerja secara terbuka maupun tersembunyi.
Dalam tradisi ini, kritik bukan tindakan destruktif, melainkan upaya memahami struktur yang tidak adil agar bisa diubah.
Peta Besar Pemikiran Kritis
Secara garis besar, tradisi pemikiran kritis dapat dibagi ke dalam tiga wilayah utama:
- Pembebasan Akal & Metodologi Kritis
- Pembongkar Struktur Kekuasaan & Ketimpangan
- Kritik Budaya, Media, dan Kesadaran
Pembagian ini membantu kita memahami siapa menggunakan alat analisis apa, dan untuk membaca persoalan apa.
I. Pembebasan Akal dan Metodologi Kritis
Immanuel Kant (1724–1804)
Kant sering disebut sebagai titik balik besar dalam filsafat modern karena ia menggeser pusat kebenaran dari otoritas eksternal ke subjek yang berpikir. Ia menolak pengetahuan yang diterima begitu saja, baik dari tradisi, agama, maupun kekuasaan politik. Bagi Kant, manusia harus berani menggunakan akalnya sendiri, sebuah sikap yang ia rangkum dalam semboyan pencerahan: Sapere Aude (beranilah berpikir).
Namun kritik Kant bukanlah pembebasan tanpa batas. Justru ia menekankan bahwa akal memiliki batas-batas struktural. Dengan memahami batas itu, manusia tidak terjebak pada dogma baru yang mengklaim kebenaran mutlak. Inilah sumbangan penting Kant bagi pemikiran kritis: kritis terhadap otoritas, sekaligus kritis terhadap klaim akal itu sendiri.
Karya penting:
Kritik Akal Murni (1781), Apa Itu Pencerahan? (1784)
Karl Popper (1902–1994)
Popper mengembangkan kritik terhadap cara ilmu pengetahuan dipahami. Ia menolak pandangan bahwa ilmu berkembang melalui pembuktian final. Bagi Popper, teori ilmiah justru harus selalu terbuka untuk disalahkan. Kemajuan pengetahuan lahir dari kesalahan yang di kritik, bukan dari kepastian yang di pertahankan.
Kontribusi Popper sangat penting dalam melawan dogmatisme ilmiah dan ideologis. Dalam masyarakat tertutup, teori sering di perlakukan sebagai kebenaran mutlak yang tidak boleh dipertanyakan. Popper melihat sikap ini sebagai ancaman bagi kebebasan berpikir dan demokrasi. Karena itu, ia menghubungkan metode ilmiah dengan gagasan masyarakat terbuka.
Karya penting:
Logika Penemuan Ilmiah (1934), Masyarakat Terbuka dan Musuh-Musuhnya (1945)
Max Weber (1864–1920)
Weber bukan filsuf normatif yang menawarkan jalan pembebasan, tetapi ia memberikan alat analisis kritis yang sangat berpengaruh. Ia menunjukkan bagaimana rasionalitas modern dalam bentuk hukum, birokrasi, dan administrasi justru dapat menciptakan keterikatan baru yang membatasi kebebasan manusia.
Konsep “sangkar besi rasionalitas” membantu kita memahami negara modern yang tampak netral, legal, dan efisien, tetapi sering kali tidak manusiawi. Weber mengajarkan bahwa kekuasaan modern tidak selalu brutal, tetapi terorganisir dan sah secara formal, sehingga sulit di kritik tanpa perangkat analisis yang tajam.
Karya penting:
Ekonomi dan Masyarakat (1922), Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme (1905)
Émile Durkheim (1858–1917)
Durkheim menempatkan masalah sosial dalam kerangka struktural. Ia menolak penjelasan yang menyalahkan individu semata, dan memperkenalkan konsep fakta sosial kekuatan eksternal yang membentuk perilaku manusia.
Kontribusi Durkheim penting bagi pemikiran kritis karena ia membantu memindahkan analisis dari moralitas personal ke struktur masyarakat. Banyak juga masalah yang tampak sebagai kegagalan individu sejatinya adalah gejala sistem sosial yang tidak sehat.
Karya penting:
Pembagian Kerja dalam Masyarakat (1893), Bunuh Diri (1897)
II. Pembongkar Struktur Kekuasaan dan Ketimpangan
Karl Marx (1818–1883)
Marx menawarkan kritik paling sistematis terhadap kapitalisme. Ia menunjukkan bahwa ketimpangan bukan hasil keserakahan individu, melainkan konsekuensi dari relasi produksi. Kapitalisme juga bekerja dengan mengekstraksi nilai lebih dari kerja manusia.
Lebih dari sekadar kritik ekonomi, Marx menyediakan kerangka analisis sejarah yang menempatkan konflik kelas sebagai motor perubahan sosial. Pemikirannya menjadi fondasi bagi banyak tradisi kritik kekuasaan hingga hari ini.
Karya-karya penting:
Das Kapital (1867), Manifesto Komunis (1848)
Friedrich Engels (1820–1895)
Engels memperkaya kritik Marx dengan observasi empiris tentang kehidupan kelas pekerja. Ia menunjukkan bagaimana industrialisasi juga menciptakan kemiskinan struktural dan penderitaan massal.
Peran Engels penting karena ia menjembatani teori dan realitas sosial konkret. Tanpa Engels, kritik Marx berisiko kita baca terlalu abstrak.
Karya penting:
Kondisi Kelas Pekerja di Inggris (1845)
Antonio Gramsci (1891–1937)
Gramsci menggeser kritik kekuasaan ke ranah budaya dan ideologi. Ia juga menunjukkan bahwa dominasi tidak hanya dipertahankan dengan paksaan, tetapi melalui hegemoni persetujuan yang dibentuk lewat pendidikan, media, dan kebiasaan.
Pemikiran Gramsci membantu menjelaskan mengapa masyarakat bisa menerima sistem yang merugikan mereka sendiri. Kritiknya relevan untuk membaca politik modern yang jarang mengandalkan kekerasan terbuka.
Karya penting:
Prison Notebooks (1929–1935)
Michel Foucault (1926–1984)
Foucault menolak pandangan bahwa kekuasaan hanya terpusat oleh negara atau elite. Intinya, ia melihat kekuasaan sebagai jaringan relasi yang bekerja melalui institusi, norma, dan wacana.
Kontribusinya penting untuk memahami bagaimana kontrol sosial berlangsung secara halus melalui pendidikan, kesehatan, hukum, dan bahasa tanpa perlu represi terbuka.
Karya penting:
Disiplin dan Hukuman (1975), Sejarah Seksualitas (1976)
Pierre Bourdieu (1930–2002)
Bourdieu mengungkap mekanisme dominasi simbolik, yaitu bagaimana bahasa, selera, dan pendidikan mereproduksi ketimpangan sosial.
Lebih lanjut, ia menunjukkan bahwa kekuasaan sering bekerja tanpa kita sadari, bahkan oleh mereka yang tunduk padanya. Dengan demikian, kritik Bourdieu membantu membongkar ilusi meritokrasi.
Karya penting:
Distinction (1979), Outline of a Theory of Practice (1972)
III. Kritik Budaya, Media, dan Kesadaran
Theodor W. Adorno (1903–1969)
Adorno mengkritik masyarakat modern yang mereduksi manusia menjadi konsumen. Industri budaya, menurutnya, menciptakan hiburan yang menumpulkan kesadaran kritis.
Ia menunjukkan bahwa rasionalitas modern bisa berubah menjadi alat dominasi, bukan pembebasan.
Karya penting:
Dialectic of Enlightenment (1947)
Herbert Marcuse (1898–1979)
Marcuse memperluas kritik Adorno dengan menunjukkan bagaimana masyarakat modern menciptakan kebutuhan palsu. Kebebasan tetap ada, tetapi dalam bentuk yang sudah terarahkan.
Karya penting:
One-Dimensional Man (1964)
Walter Benjamin (1892–1940)
Benjamin membaca sejarah dari sudut pandang yang kalah. Ia menolak narasi kemajuan yang menutupi penderitaan manusia.
Pemikirannya membantu kritik sejarah yang tidak berpihak pada pemenang.
Karya penting:
Tesis tentang Filsafat Sejarah (1940)
Noam Chomsky (1928 – Saat Tulisan ini Terbit Masih Hidup)
Chomsky membongkar bagaimana media modern membentuk opini publik melalui penyaringan dan framing, bukan sensor kasar.
Kemudian, Naom Chomsky menunjukkan bahwa kebebasan pers tidak otomatis berarti kebebasan informasi.
Karya penting:
Manufacturing Consent (1988)
Paulo Freire (1921–1997)
Freire menempatkan pendidikan sebagai arena politik. Ia menolak pendidikan yang menjadikan manusia pasif dan patuh.
Baginya, pendidikan harus membangkitkan kesadaran kritis.
Karya penting:
Pedagogi Kaum Tertindas (1968)
Jürgen Habermas (1929 – Saat Tulisan ini Terbit Masih Hidup)
Habermas menekankan pentingnya ruang publik sebagai fondasi utama demokrasi, di mana warga dapat berpartisipasi dalam komunikasi rasional yang bebas dari dominasi kekuasaan. Dalam konteks ini, demokrasi tidak cukup kita pahami sebagai mekanisme pemilihan formal semata, melainkan sebagai proses diskusi publik yang berkelanjutan.
Tanpa itu, demokrasi berisiko terreduksi hanya menjadi prosedur administratif yang kosong dari perdebatan substantif. Oleh karena itu, Habermas menegaskan bahwa kualitas demokrasi sangat bergantung pada sejauh mana ruang publik memungkinkan pertukaran argumen yang setara dan inklusif.
Karya penting:
Transformasi Struktural Ruang Publik (1962)
Tokoh-tokoh yang di bahas di sini memiliki kontribusi besar dalam membentuk tradisi pemikiran kritis di dunia ilmu pengetahuan dan juga ilmu sosial. Meskipun demikian, mereka berasal dari latar belakang, keilmuan, serta orientasi politik yang berbeda. Tidak hanya itu, karya-karya mereka pada akhirnya sama-sama memperluas kemampuan manusia untuk mempertanyakan otoritas, struktur kekuasaan, dan klaim kebenaran yang mapan.




