Marhaenisme bukan sekadar ideologi, melainkan teori perjuangan rakyat Indonesia. Artikel ini membahas Marhaenisme antara ideologi dan praksis secara mudah dipahami.
Di kalangan anak muda, Marhaenisme sering terdengar seperti istilah sejarah: nama ideologi lama, identik dengan Sukarno, atau sekadar jargon politik. Padahal, jika kita baca dengan benar, Marhaenisme bukan hanya soal “apa yang kita yakini”, tetapi bagaimana kita berjuang.
Perdebatan tentang Marhaenisme sering berhenti pada satu pertanyaan: apakah Marhaenisme itu ideologi atau metode?
Jawaban sederhananya: Marhaenisme adalah ideologi yang hidup melalui metode perjuangan.
Persoalan Kelas: Di-satukan atau Di-kaburkan?
Salah satu kritik yang sering muncul adalah bahwa Marhaenisme terlalu “luas” dalam mendefinisikan rakyat tertindas. Petani kecil, buruh, pedagang kecil, kaum miskin kota—semuanya adalah Marhaen. Bagi sebagian orang, ini kesannya sangat kabur.
Namun bagi Marhaenisme, penyatuan itu bukan kesalahan, melainkan pilihan politik. Dalam konteks Indonesia yang dijajah dan tertindas secara sistemik, musuh utamanya jelas: imperialisme, kapitalisme, dan feodalisme. Selama penindasnya sama, rakyat perlu dihimpun, bukan dipisah-pisahkan oleh kategori yang justru melemahkan kekuatan bersama.
Perbedaan kepentingan di antara rakyat memang ada. Tapi Marhaenisme tidak menyebutnya konflik yang harus dipertajam, melainkan dinamika yang harus dikelola. Dinamika ini adalah nafas perjuangan, bukan alasan untuk terpecah.
Marhaenisme sebagai Teori Perjuangan
Yang sering dilupakan generasi sekarang adalah bahwa Marhaenisme memiliki metode perjuangan yang jelas, sebagaimana diajarkan Sukarno. Ada tiga pilar utama yang tidak boleh dihilangkan:
Pertama, non-kooperasi.
Artinya, menolak bekerja sama dengan sistem dan kekuasaan yang menindas rakyat. Ini bukan taktik sementara, tapi sikap politik. Marhaenisme tidak lahir untuk berdamai dengan ketidakadilan.
Kedua, machtsvorming (pembentukan kekuasaan).
Marhaenisme tidak puas hanya dengan kritik atau kesadaran. Tujuannya adalah membangun kekuatan rakyat yang terorganisir dan mandiri. Tanpa kekuasaan, perubahan hanya akan jadi wacana.
Ketiga, character building.
Bagi Sukarno, revolusi bukan hanya soal mengganti sistem, tapi membentuk manusia baru. Kekuasaan tanpa karakter akan melahirkan penindas baru. Karena itu, disiplin, keberanian, dan kesetiaan pada rakyat adalah bagian dari perjuangan.
Kenapa Marhaenisme Masih Relevan?
Dalam sejarah Indonesia, Marhaenisme terbukti mampu menghimpun kekuatan rakyat dan melahirkan kesadaran nasional. Ia efektif bukan karena teorinya rumit, tapi karena mudah orang pahami dan bisa untuk siapapun mempraktikkan.
Untuk generasi muda hari ini, Marhaenisme penting bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai kerangka berpikir dan bertindak: berpihak pada rakyat, menolak kompromi dengan penindasan, membangun kekuatan bersama, dan menjaga karakter dalam perjuangan.
Marhaenisme bukan kitab mati. Ia hidup sejauh ada yang memperdebatkan, mengkritik, dan mempraktikkan. Dan justru dari perdebatan serius inilah, Marhaenisme bisa terus bernapas di zaman baru.








Response (1)