Marhaenisme Ideologi atau Metode Perjuangan

oleh -17 Dilihat
ideologi marhaenisme
ideologi marhaenisme

Marhaenisme  adalah salah satu warisan pemikiran terpenting dalam sejarah politik Indonesia. Namun hingga hari ini, banyak orang masih berdebat apakah Marhaenisme merupakan merupakan sebuah  ideologi, atau justru itu adalah metode perjuangan?.Jujur, Sebenrnya  Pertanyaan ini sangat  penting, karena cara kita memahami Marhaenisme akan menentukan bagaimana ia diterapkan dalam konteks sosial-politik kontemporer.

Secara historis, Marhaenisme Sukarno lahir dari perjumpaan langsung Bung Karno dengan rakyat kecil yang ia sebut “Marhaen”. Dari sini, Marhaenisme muncul sebagai kritik tajam terhadap kapitalisme, feodalisme, dan imperialisme, dengan fokus pada pembebasan rakyat tertindas di negeri terjajah. Dalam pengertian ini, Ideologi Marhaenisme tampak jelas: ia memiliki nilai dasar, pandangan dunia, serta tujuan sosial yang tegas, yakni keadilan sosial dan kedaulatan rakyat.

banner 468x60

Marhaenisme Tidak Kaku

Namun, Marhaenisme tidak sepenuhnya dapat disamakan dengan ideologi yang kaku seperti liberalisme atau marxisme ortodoks. Sukarno sendiri tidak pernah membingkainya sebagai dogma tertutup. Justru sebaliknya, Marhaenisme bersifat kontekstual dan membumi. Ia menyesuaikan diri dengan kondisi sosial, budaya, dan sejarah bangsa Indonesia. Di sinilah muncul pandangan bahwa Marhaenisme lebih tepat dipahami sebagai metode perjuangan.

Sebagai metode, Teori Perjuangan Marhaenisme menekankan kesadaran rakyat, persatuan nasional, dan perjuangan politik yang berakar pada realitas lokal. Marhaenisme tidak menunggu proletarisasi ala Eropa, tetapi berangkat dari struktur masyarakat Indonesia yang mayoritas adalah petani kecil, buruh informal, dan kaum miskin kota. Artinya, Marhaenisme bukan sekadar teori, melainkan cara membaca realitas dan bertindak di dalamnya.

Maka, memisahkan Marhaenisme sebagai ideologi atau metode sebenarnya adalah dikotomi yang kurang produktif. Marhaenisme adalah ideologi yang hidup, sekaligus metode yang bergerak. Ia memberi arah nilai, sekaligus menyediakan cara bertindak. Dalam konteks hari ini—di tengah ketimpangan ekonomi, krisis demokrasi, dan dominasi modal—Marhaenisme tetap relevan bukan karena slogan-slogannya, tetapi karena kemampuannya beradaptasi.

Dengan demikian, Marhaenisme bukan kitab suci politik, melainkan alat analisis dan perjuangan. Ia mengajak kita untuk terus berpihak, berpikir kritis, dan berjuang bersama rakyat. Dan mungkin di situlah kekuatan sejatinya: bukan pada label ideologi semata, tetapi pada praksis yang tak pernah selesai.

Responses (3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.